Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Kumpulan Pilihan Nama Anak Laki-laki Muslim Terbaik

Add Comment

"Apalah arti sebuah nama" adalah istilah yang sering didengar. Seolah nama bukanlah hal penting yang difikirkan sebelum diberikan. Padahal dalam Islam, memberikan nama adalah suatu hal yang harus diperhitungkan masak-masak jangan sampai asal saja memberikan nama pada anak.

I. NAMA YANG BAIK ADALAH HAK ANAK

Karena memberikan nama yang baik adalah salah satu hak anak yang harus diberikan orang tuanya sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadist.

Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad saw: "Ya Rasulullah, apakah hak anakkku dariku?" Nabi menjawab: "Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan ia di tampat yang baik."

"Baguskanlah namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti." (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

II. WAKTU PEMBERIAN NAMA

Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa waktu pemberian nama itu ada 3 macam:

1.  Memberinya nama pada hari kelahirannya
2.  Memberinya nama pada hari ketiga dari kelahirannya
3.  Memberinya nama pada hari ketujuh dari kelahirannya.

Perbedaan ini hanya bersifat ikhtilaf tanawwu’ (perselisihan yang bisa ditoleransi) yang menunjukkan bahwa dalam persoalan ini ada kelonggarannya.

III. YANG BERHAK MEMBERI NAMA

Tidak ada perselisihan bahwa sang ayah adalah orang yang paling berhak untuk menamai anaknya. Jika seorang ayah berbeda pendapat dengan seorang ibu dalam menentukan nama untuk anaknya, maka ayahlah sebagai pihak yang diutamakan.

Berdasarkan hal tersebut, maka seorang ibu hendaknya tidak membantah dan menyelisihi. Sementara dalam musyawarah antara kedua orang tua terdapat suatu kesempatan yang luas untuk saling meridhai, berlemah-lembut, dan memperkokoh tali hubungan antarkeluarga.

Sebagaimana telah diriwayatkan dengan shahih dari sekelompok sahabat radhiyallahu ‘anhum bahwa mereka biasa menyodorkan putra-putri mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar beliau berkenan memberikan nama. Hal ini menunjukkan bahwa seorang ayah hendaknya bermusyawarah dalam memberikan nama dengan seorang ulama yang mengetahui tentang sunnah atau ahlus sunnah yang terpercaya dalam dien dan ilmunya agar menunjukkan kepadanya sebuah nama yang baik bagi anaknya.

IV. PILIHAN NAMA ANAK LAKI-LAKI TERBAIK DALAM ISLAM

1. Memberikan nama ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman

Disunnahkan memberi nama anak laki dengan dua nama yakni ‘Abdullah (hamba Allah) dan ‘Abdurrahman (hambanya Yang Maha Pengasih), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ أَحَبَّ اْلأَسْمَاءِ إِلَى اللهِ عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ

“Sesungguhnya nama yang paling dicintai oleh Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman.” (HR Muslim, Abu Dawud dan selainnya dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri juga telah menamai putra pamannya ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dengan nama ‘Abdullah.

Di kalangan para sahabat ada sekitar 300 orang yang semuanya bernama ‘Abdullah. Begitu pula bayi pertama yang lahir dari kalangan kaum Muhajirin setelah hijrah ke Madinah adalah bernama ‘Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu.

2. Memberikan nama mengambil dari Asmaul Husna

Nama terbaik yan kedua adalah nama yang diambil dari Nama-nama Allah yang disebut Asmaul Husna. 

Namun hendaknya tidak lupa untuk mengawalinya dengan ABDU ( HAMBA) sebelum Asmaul Husna. Seperti misalnya Abdurrahman, Abdus Salam, Abdul Jabbar, Abdul Qodir dll.

Tidak boleh memberikan nama anak menggunakan Asmaul Husna tanpa didahului Abdu. Seperti misalnya Ar Rohman, Al Malik, As Salam dst. Karena nama itu hanya milik Allah semata yang pantas memakainya.

3. Memberikan Nama Nabi dan Rasul

Nabi adalah manusia suci pilihan Allah yang diutus untuk memimpin manusia. Akhlak dan kemuliaan mereka melebihi manusia mereka. Maka memberi nama anak yang mengambil dari Nama nabi adalah hal yang sangat baik.

Sebagaimana juga dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menamakan salah seorang anaknya dengan nama Nabi, sebagaimana sabda beliau:

وُلِدَلِي اللَّيْلَةَ غُلاَمُ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيْمَ

“Semalam telah lahir untukku seorang anak laki-laki, maka aku beri nama dengan nama moyangku, Ibrahim.” (HR Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Yang paling afdhol dari nama para nabi adalah nama nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam hal ini beliau bersabda:

سَمُّوا بِاسْمِي وَلاَ تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي

“Namailah oleh kalian dengan namaku dan jangan berkunyah dengan kun-yahku.” (Hadits riwayat Al Bukhari 10/571-Fathul Bari, Muslim 14/359-Syarhun Nawawi, Abu Dawud 4965, Tirmidzi 2841, dll)

4. Memberikan Nama dari Orang Soleh

Al Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda:

إِنَّهُمْ كَانُوْا يُسَمُّوْنَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِيْنَ قَبْلَهُمْ

“Sesungguhnya mereka (umat-umat terdahulu) menamakan dengan nama para nabi mereka dan orang-orang shalih sebelum mereka.” (HR Muslim)

Seperti menamai anak-anaknya dengan nama-nama Khulafaur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum yaitu :

  1. Abu Bakar
  2. Umar
  3. Utsman 
  4. Ali. 
Atau bisa juga mengambil nama para sahabat Nabi antara lain: 

  1. Ammar
  2. Amr
  3. Bilal
  4. Hudzaifah
  5. Jabir
  6. Mu’awiyah
  7. Salman
  8. Sufyan
  9. Ukkasyah
  10. Ubay

Atau mengambil dari Nama Pejuang Islam dalam perang Badar yaitu :

1. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
2. Abu Bakar as-Shiddiq Radliyallahu 'Anhu.
3. Umar bin al-Khattab Radliyallahu 'Anhu.
4. Utsman bin Affan Radliyallahu 'Anhu.
5. Ali bin Abu Tholib Karramallahu Wajhah.
6. Talhah bin ‘Ubaidillah Radliyallahu 'Anhu.
7. Bilal bin Rabbah Radliyallahu 'Anhu.
8. Hamzah bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
9. Abdullah bin Jahsyi Radliyallahu 'Anhu.
10. Al-Zubair bin al-Awwam Radliyallahu 'Anhu.
11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim Radliyallahu 'Anhu.
12. Abdur Rahman bin ‘Auf Radliyallahu 'Anhu.
13. Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu 'Anhu.
14. Sa’ad bin Abi Waqqas Radliyallahu 'Anhu.
15. Abu Kabsyah al-Faris Radliyallahu 'Anhu.
16. Anasah al-Habsyi Radliyallahu 'Anhu.
17. Zaid bin Harithah al-Kalbi Radliyallahu 'Anhu.
18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi Radliyallahu 'Anhu.
19. Abu Marthad al-Ghanawi Radliyallahu 'Anhu.
20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) Radliyallahu 'Anhu.
26. Salim (maula Abu Huzaifah) Radliyallahu 'Anhu.
27. Sinan bin Muhsin Radliyallahu 'Anhu.
28. ‘Ukasyah bin Muhsin Radliyallahu 'Anhu.
29. Sinan bin Abi Sinan Radliyallahu 'Anhu.
30. Abu Sinan bin Muhsin Radliyallahu 'Anhu.
31. Syuja’ bin Wahab Radliyallahu 'Anhu.
32. ‘Utbah bin Wahab Radliyallahu 'Anhu.
33. Yazid bin Ruqais Radliyallahu 'Anhu.
34. Muhriz bin Nadhlah Radliyallahu 'Anhu.
35. Rabi’ah bin Aksam Radliyallahu 'Anhu.
36. Thaqfu bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
37. Malik bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
38. Mudlij bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i Radliyallahu 'Anhu.
40. ‘Utbah bin Ghazwan Radliyallahu 'Anhu.
41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) Radliyallahu 'Anhu.
42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi Radliyallahu 'Anhu.
43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) Radliyallahu 'Anhu.
44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah Radliyallahu 'Anhu.
45. Umair bin Abi Waqqas Radliyallahu 'Anhu.
46. Al-Miqdad bin ‘Amru Radliyallahu 'Anhu.
47. Mas’ud bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
48. Zus Syimalain Amru bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi Radliyallahu 'Anhu.
50. Amir bin Fuhairah Radliyallahu 'Anhu.
51. Suhaib bin Sinan Radliyallahu 'Anhu.
52. Abu Salamah bin Abdul Asad Radliyallahu 'Anhu.
53. Syammas bin Uthman Radliyallahu 'Anhu.
54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam Radliyallahu 'Anhu.
55. Ammar bin Yasir Radliyallahu 'Anhu.
56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i Radliyallahu 'Anhu.
57. Zaid bin al-Khattab Radliyallahu 'Anhu.
58. Amru bin Suraqah Radliyallahu 'Anhu.
59. Abdullah bin Suraqah Radliyallahu 'Anhu.
60. Sa’id bin Zaid bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) Radliyallahu 'Anhu.
62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi Radliyallahu 'Anhu.
63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli Radliyallahu 'Anhu.
64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli Radliyallahu 'Anhu.
65. Amir bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
66. Amir bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
67. Aqil bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
68. Khalid bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
69. Iyas bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
70. Uthman bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.
71. Qudamah bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.
72. Abdullah bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.
73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.
74. Ma’mar bin al-Harith Radliyallahu 'Anhu.
75. Khunais bin Huzafah Radliyallahu 'Anhu.
76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm Radliyallahu 'Anhu.
77. Abdullah bin Makhramah Radliyallahu 'Anhu.
78. Abdullah bin Suhail bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah Radliyallahu 'Anhu.
80. Hatib bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
81. Umair bin Auf Radliyallahu 'Anhu.
82. Sa’ad bin Khaulah Radliyallahu 'Anhu.
83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah Radliyallahu 'Anhu.
84. Amru bin al-Harith Radliyallahu 'Anhu.
85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
86. Safwan bin Wahab Radliyallahu 'Anhu.
87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
88. Sa’ad bin Muaz Radliyallahu 'Anhu.
89. Amru bin Muaz Radliyallahu 'Anhu.
90. Al-Harith bin Aus Radliyallahu 'Anhu.
91. Al-Harith bin Anas Radliyallahu 'Anhu.
92. Sa’ad bin Zaid bin Malik Radliyallahu 'Anhu.
93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi Radliyallahu 'Anhu.
94. ‘Ubbad bin Waqsyi Radliyallahu 'Anhu.
95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi Radliyallahu 'Anhu.
96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz Radliyallahu 'Anhu.
97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi Radliyallahu 'Anhu.
98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj Radliyallahu 'Anhu.
99. Salamah bin Aslam bin Harisy Radliyallahu 'Anhu.
100. Abul Haitham bin al-Tayyihan Radliyallahu 'Anhu.
101. ‘Ubaid bin Tayyihan Radliyallahu 'Anhu.
102. Abdullah bin Sahl Radliyallahu 'Anhu.
103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
104. Ubaid bin Aus Radliyallahu 'Anhu.
105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd Radliyallahu 'Anhu.
106. Mu’attib bin ‘Ubaid Radliyallahu 'Anhu.
107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
108. Mas’ud bin Sa’ad Radliyallahu 'Anhu.
109. Abu Absi Jabr bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah Radliyallahu 'Anhu.
112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail Radliyallahu 'Anhu.
113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar Radliyallahu 'Anhu.
115. Sahl bin Hunaif bin Wahib Radliyallahu 'Anhu.
116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir Radliyallahu 'Anhu.
117. Mubasyir bin Abdul Munzir Radliyallahu 'Anhu.
118. Rifa’ah bin Abdul Munzir Radliyallahu 'Anhu.
119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy Radliyallahu 'Anhu.
121. Rafi’ bin Anjadah Radliyallahu 'Anhu.
122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid Radliyallahu 'Anhu.
123. Tha’labah bin Hatib Radliyallahu 'Anhu.
124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
129. Asim bin Adi al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
130. Jubr bin ‘Atik Radliyallahu 'Anhu.
131. Malik bin Numailah al-Muzani Radliyallahu 'Anhu.
132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
133. Abdullah bin Jubair Radliyallahu 'Anhu.
134. Asim bin Qais bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.
135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
137. Salim bin Amir bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.
138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah Radliyallahu 'Anhu.
139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah Radliyallahu 'Anhu.
141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
142. Sa’ad bin Khaithamah Radliyallahu 'Anhu.
143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah Radliyallahu 'Anhu.
144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) Radliyallahu 'Anhu.
145. Al-Harith bin Arfajah Radliyallahu 'Anhu.
146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair Radliyallahu 'Anhu.
147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
148. Abdullah bin Rawahah Radliyallahu 'Anhu.
149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
152. Subai bin Qais bin ‘Isyah Radliyallahu 'Anhu.
153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah Radliyallahu 'Anhu.
154. Abdullah bin Abbas Radliyallahu 'Anhu.
155. Yazid bin al-Harith bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah Radliyallahu 'Anhu.
157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
159. Sufyan bin Bisyr bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
160. Tamim bin Ya’ar bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
161. Abdullah bin Umair Radliyallahu 'Anhu.
162. Zaid bin al-Marini bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
163. Abdullah bin ‘Urfutah Radliyallahu 'Anhu.
164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai Radliyallahu 'Anhu.
166. Aus bin Khauli bin Abdullah Radliyallahu 'Anhu.
167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah Radliyallahu 'Anhu.
169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
170. Amir bin Salamah Radliyallahu 'Anhu.
171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad Radliyallahu 'Anhu.
172. Amir bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah Radliyallahu 'Anhu.
174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan Radliyallahu 'Anhu.
175. ‘Ubadah bin al-Somit Radliyallahu 'Anhu.
176. Aus bin al-Somit Radliyallahu 'Anhu.
177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus Radliyallahu 'Anhu.
179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah Radliyallahu 'Anhu.
180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam Radliyallahu 'Anhu.
181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam Radliyallahu 'Anhu.
182. Amru bin Iyas Radliyallahu 'Anhu.
183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy Radliyallahu 'Anhu.
185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah Radliyallahu 'Anhu.
186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah Radliyallahu 'Anhu.
187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah Radliyallahu 'Anhu.
189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais Radliyallahu 'Anhu.
190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan Radliyallahu 'Anhu.
192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus Radliyallahu 'Anhu.
193. Ka’ab bin Humar al-Juhani Radliyallahu 'Anhu.
194. Dhamrah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
195. Ziyad bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
196. Basbas bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) Radliyallahu 'Anhu.
202. Abdullah bin Amru bin Haram Radliyallahu 'Anhu.
203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
207. Hubaib bin Aswad Radliyallahu 'Anhu.
208. Thabit bin al-Jiz’i Radliyallahu 'Anhu.
209. Umair bin al-Harith bin Labdah Radliyallahu 'Anhu.
210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur Radliyallahu 'Anhu.
211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ Radliyallahu 'Anhu.
212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ Radliyallahu 'Anhu.
213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr Radliyallahu 'Anhu.
215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr Radliyallahu 'Anhu.
216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i Radliyallahu 'Anhu.
217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i Radliyallahu 'Anhu.
218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr Radliyallahu 'Anhu.
219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr Radliyallahu 'Anhu.
220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah Radliyallahu 'Anhu.
221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
222. Sawad bin Razni bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram Radliyallahu 'Anhu.
224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram Radliyallahu 'Anhu.
225. Abdullah bin Abdi Manaf Radliyallahu 'Anhu.
226. Jabir bin Abdullah bin Riab Radliyallahu 'Anhu.
227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
228. An-Nu’man bin Yasar Radliyallahu 'Anhu.
229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
230. Qutbah bin Amir bin Hadidah Radliyallahu 'Anhu.
231. Sulaim bin Amru bin Hadidah Radliyallahu 'Anhu.
232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) Radliyallahu 'Anhu.
233. Abbas bin Amir bin Adi Radliyallahu 'Anhu.
234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad Radliyallahu 'Anhu.
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais Radliyallahu 'Anhu.
236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah Radliyallahu 'Anhu.
237. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus Radliyallahu 'Anhu.
238. Qais bin Mihshan bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
239. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
240. Jubair bin Iyas bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
241. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman Radliyallahu 'Anhu.
242. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih Radliyallahu 'Anhu.
245. Al-Fakih bin Bisyr Radliyallahu 'Anhu.
246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
247. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
257. Khalifah bin Adi bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan Radliyallahu 'Anhu.
259. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari Radliyallahu 'Anhu.
260. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
262. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza Radliyallahu 'Anhu.
263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru Radliyallahu 'Anhu.
264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani Radliyallahu 'Anhu.
265. Mas’ud bin Aus bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
267. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
268. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.
269. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.
270. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.
271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.
272. Abdullah bin Qais bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani Radliyallahu 'Anhu.
274. Ishmah al-Asyja’i Radliyallahu 'Anhu.
275. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi Radliyallahu 'Anhu.
276. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
277. Tha’labah bin Amru bin Mihshan Radliyallahu 'Anhu.
278. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
279. Ubai bin Ka’ab bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
281. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram Radliyallahu 'Anhu.
282. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.
283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl Radliyallahu 'Anhu.
284. Abu Syeikh Ubai bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.
285. Harithah bin Suraqah bin al-Harith Radliyallahu 'Anhu.
286. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi Radliyallahu 'Anhu.
287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik Radliyallahu 'Anhu.
288. Abu Salit bin Usairah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
289. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik Radliyallahu 'Anhu.
290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
291. Muhriz bin Amir bin Malik Radliyallahu 'Anhu.
292. Sawad bin Ghaziyyah Radliyallahu 'Anhu.
293. Abu Zaid Qais bin Sakan Radliyallahu 'Anhu.
294. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim Radliyallahu 'Anhu.
295. Sulaim bin Milhan Radliyallahu 'Anhu.
296. Haram bin Milhan Radliyallahu 'Anhu.
297. Qais bin Abi Sha’sha’ah Radliyallahu 'Anhu.
298. Abdullah bin Ka’ab bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
299. ‘Ishmah al-Asadi Radliyallahu 'Anhu.
300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik Radliyallahu 'Anhu.
301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah Radliyallahu 'Anhu.
302. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud Radliyallahu 'Anhu.
304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru Radliyallahu 'Anhu.
305. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud Radliyallahu 'Anhu.
307. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal Radliyallahu 'Anhu.
308. Ka’ab bin Zaid bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi Radliyallahu 'Anhu.
310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah Radliyallahu 'Anhu.
312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj Radliyallahu 'Anhu.
313. Oleh bin Syuqrat Radliyallahu 'Anhu.

Nama dari orang salih juga bisa diambil dari para Ulama dan Imam Madzhab seperti :

  1. Imam Bukhori
  2. Imam Muslim
  3. Imam Malik
  4. Imam Hambali
  5. Imam Syafi'i
  6. Imam Hanafi
  7. Imam Ghazali dll

Atau dari nama Wali Sanga penyebar Islam di Indonesia seperti :

  1. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim
  2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat
  3. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim
  4. Sunan Drajat atau Raden Qasim
  5. Sunan Kudus atau Ja'far Shadiq
  6. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin
  7. Sunan Kalijaga atau Raden Sahid
  8. Sunan Muria atau Raden Umar Said
  9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah


Seorang sahabat bernama Zubair bin Al ‘Awwam radhiyallahu ‘anhu menamakan anak laki-lakinya yang berjumlah 9 orang dengan nama para syuhada. Mereka adalah:

  1. Abdullah (diambil dari nama ‘Abdullah bin Jahsy, syahid dalam Perang Uhud)
  2. Al Mundzir (diambil dari nama Al Mundzir bin ‘Amr Al Anshari)
  3. Urwah (diambil dari nama ‘Urwah bin Mad’ud Ats Tsaqafi)
  4. Hamzah (diambil dari nama Hamzah bin ‘Abdul Muthalib, syahid dalam Perang Uhud)
  5. Ja’far (diambil dari nama Ja’far bin Abi Thalib, syahid dalam Perang Mu’tah)
  6. Mush’ab (diambil dari nama Mush’ab bin ‘Umair, pembawa bendera dan syahid dalam Perang Uhud)
  7. Ubaidah (diambil dari nama ‘Ubaidah bin Al Harits, syahid dalam Perang Badr)
  8. Khalid (diambil dari nama Khalid bin Sa’id)
  9. Umar (diambil dari nama ‘Umar bin Sa’id, saudara Khalid bin Sa’id terbunuh dalam Perang Yarmuk).

V. Membaca Doa Sebelum Memberikan Nama

Apabila sudah menemukan nama yang tepat maka jangan lupa membaca doanya, Berikut lafal doa tersebut.

" Allahumaj'alna haadzal ismi mubaarakal lahu fiiman khafaka wattaqaka, waj'allahu bil waalidaini ihsaana."

" Allahumma thawwil 'umurahu fii thaa 'atika shahhih ajsaadahu. Allahummaj'alahu za'iiman fi kabirihi, wa tsabbit immanahu 'alaa balaa ik."

Artinya:

" Ya Allah, jadikanlah nama ini memberi berkah baginya, menjadi anak yang takwa kepada Allah serta dapat berbakti kepada ibu bapaknya."

" Ya Allah, panjangkanlah umurnya dalam mentaati agama Engkau, sehatkanlah tubuhnya. Jadikanlah dia sebagai pemimpim setelah dewasa, dan tetapkanlah imannya menghadapi cobaan dunia serta akhirat."



Itulah Kumpulan nama anak Laki-laki Muslim Terbaik yang telah kami pilihkan, semoga bermanfaat.



Rela Habiskan 14,6 Milyar, Pengusaha Kanada Sambut Pengungsi Suriah

Add Comment

Televisi seringkali dianggap sebagai penyebab hal buruk terutama bagi anak-anak. Namun tidak bagi Jim Estill seorang Bos Perusahaan pembuat perkakas rumah.

Bermula sering melihat liputan tentang pengungsi suriah di televisi telah membuat hatinya begitu iba. Hati nuraninya terus dibebani perasaan untuk ikut membantu para pengungsi Suriah. 

Sejak dilanda konflik dan peperangan yang tidak pernah berhenti, banyak warga Suriah yang harus bertahan di bawah tekanan agar bisa mendapat penghidupan yang layak.

Dengan keinginannya yang begitu besar sehingga pengusaha asal Kanada itu rela mengeluarkan sumbangan dalam jumlah yang sangat besar. Tidak tanggung-tanggung, ia harus merogoh uangnya sebesar US$ 1,1 Juta atau setara dengan Rp 14, 6 Milyar.

Tidak merasa hanya cukup sampai disitu ia terus berusaha agar bisa memberikan bantuan yang lebih besar lagi. Estill lalu mengajak berbagai komunitas dari berbagai elemen masyarakat untuk ikut memberikan bantuan moral bagi para pengungsi.

"Saya berpikir orang-orang tidak melakukan hal cukup dengan cepat," tuturnya seperti dilansir Guardian, Rabu (21/6/2017).

Gayung bersambut, ajakannya ternyata direspon baik dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah setempat. Hebatnya pria 59 tahun tersebut memiliki ambisi untuk merelokasi pengungsi yang datang ke sebuah kota kecil di Kanada bernama Guelph.

"Guelph bisa menampung 50 keluarga, jadi cukup untuk 250-300 orang untuk bisa hidup di sini," tuturnya.

Hingga kini, sebanyak 47 keluarga pengungsi Suriah telah tiba di Guelph. Estill mengatakan, beberapa keluarga pengungsi juga akan menyusul datang dalam beberapa bulan ke depan. Total, sekitar 225 orang pengungsi suriah akan terbantu dengan rencana yang dibuat Estill.

Kanada bukanlah satu-satunya negara yang menyambut baik pengungsi yang ingin mencari suaka ke negaranya. Sebagai perbandingan, Inggris berencana menerima 20.000 pengungsi Suriah pada 2020 dan Amerika Serikat sebanyak 10.000 pengungsi.



Sungguh mulia sekali hati Jim Estill itu ya, bagaimana dengan kita sebagai muslim, tentu kita harus lebih baik darinya.

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan mela­in­kan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya.” (Q.s. al-An‘am: 160)

Kisah Masjid Lapeo, Uang Sumbangan Masjid Kembali Ke Pemiliknya

Add Comment


Bagi muslim masjid bukan hanya sekedar tempat shalat namun juga adalah rumah Allah yang harus dimuliakan dan dijaga kesuciannya. Maka memuliakan masjid sama saja memuliakan Allah.

Kalau Allah saja memuliakan masjid maka mengapa Umat Islamnya tidak. Kemuliaan masjid yang begitu besar dari Allah seringkali melahirkan kejadian-kejadian penuh misteri yang menakjubkan. Sebagai contoh bagaimana kokohnya masjid di aceh yang tetap tegak berdiri padahal semua bangunan disekelilingnya rata oleh tanah akibat Banjir Tsunami.



Salah satu Masjid yang juga dikenal memiliki Keramat atau Kemuliaan dari Allah adalah Masjid Lapeo. Masjid yang terletak di Jalan Trans Sulbar, Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polman, Sulbar juga melahirkan kisah yang tidak dimengerti akal. 

Warga sekitar juga mengakui Kemuliaan masjid yang didirikan oleh KH Muhammad Tahir atau lebih dikenal Imam Lapeo. Seorang Ulama besar yang lahir di Polman pada tahun 1983 Masehi. Selain sebagai Ulama beliau juga dikenal sebagai penyebar ajaran Islam di Sulbar hingga mencapai tanah Bugis.



Pada saat awal dibangun, masjid ini konon menggunakan campuran putih telur. Karena saat itu, semen masih belum terlalu dikenal warga desa. Seiring bertambahnya waktu masjid Lapeo sudah mengalami beberapa kali renovasi hingga sekarang. Tinggal menaranya yang sampai sekarang belum direnovasi pondasinya. Hanya atasan saja yang terus dipermak.

Hebatnya, menurut keturunan beliau yang juga cucunya, Ustadz Ahmad Arfah menerangkan bahwa Imam Lapeo telah berhasil mendirikan 40 buah masjid selama hidupnya. Namun Masjid Lapeo lah yang paling banyak dikunjungi oleh para jamaahnya. Mungkin karena Masjid itu berada di depan rumah Ulama Kharismatik tersebut. 

Semenjak wafatnya Imam Lapeo maka kini para jemaahnya hanya bisa datang berziarah ke makamnya yang berada di area Majid Lapeo.

Menurut penuturan Ustadz Ahmad Arfah, dahulu daerah tersebut adalah kampung yang penuh dengan kemaksiatan perjudian dan kriminal. Namun semenjak kehadiran Imam Lapeo kini kampung tersebut menjadi daerah yang sangat taat dalam menjalani agama.

Beberapa kejadian aneh tentang masjid itu pernah dialami dan disaksikan warga saat itu. Suatu hari karena salah satu menara masjid itu miring lalu warga berniat merubuhkan menara itu agar tidak membahayakan orang. Namun menara itu kembali lurus ketika terjadi gempa.

Pernah juga suatu hari pengurus masjid kedatangan mobil truk yang mengantarkan semen dalam jumlah besar untuk masjid. Para pengurus merasa heran karena mereka tidak ada yang merasa memesan semen. Semakin bertambah heran ketika sopir truk itu menunjuk orang tua yang di dalam photo yang telah membayarnya. Padahal itu adalah photo Imam Lapeo yang telah meninggal puluhan tahun lalu.



Kejadian terbaru juga dialami seorang jemaah masjid itu yang menyumbang sebagian uangnya untuk masjid itu. Namun betapa anehnya ketika pulang ia mendapati uangnya berada di lemari kamarnya. Ia mengaku bahwa uang itu adalah uang hasil kemenangannya di judi.

Percaya atau tidak tapi bagi Allah semua bisa saja terjadi atas kehendakNya. 

baca : Kumpulan Kisah Karomah Imam Lapeo Yang Menakjubkan






Mencari Nama Untuk Anak ? Kenapa Tidak Pilih Dari 313 Nama Kesatria Perang Badar Berikut

Add Comment


Perang Badar adalah salah satu perang terbesar sekaligus terberat yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad Saw antara Umat Islam menghadapi Kafir Quraisy. Secara hitung-hitungan angka tidak mungkin pasukan muslim yang hanya berjumlah 313 orang mampu mengalahkan musuh yang berjumlah 1000 orang. Namun pasukan Islam yang hanya memiliki 2 kuda dan 70 onta yang dinaiki secara bergantian tidaklah merasa gentar apalagi mundur.

Sungguh lawan yang sangat tidak seimbang kala 300 orang harus menghadapi pasukan musuh yang berjumlah 3 kali lipat lengkap dengan 600 baju besi, 100 kuda dan 700 onta sebagai tunggangan.

Apalagi pasukan muslim bukanlah pasukan yang berlatar belakang seorang prajurit atau kesatria. Pasukan Islam saat itu hanyalah sekumpulan rakyat biasa yang mengandalkan kekuatan Iman mereka kepada janji Allah dan RasulNya.

Namun demikian ternyata pasukan Muslim yang sedikit itu justru mampu mengoyak perlawanan musuh dan membuat musuh lari terbirit-birit.

Pasukan Muslim akhirnya memenangkan perang padahal mereka sedang berpuasa. Jumlah korban yang jatuh dipihak muslim ternyata sangat sedikit yaitu 14 orang syahidah.

Karena ketangguhan para Pejuang Muslim di Perang Badar atau biasa disebut perang Badar Al Kubra sampai kini kisahnya terus diceiratakan. Perang Badar yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan Tahun ke dua hijriyah telah menjadi kisah kebanggaan Umat Islam.

Lalu siapakah para Ksatria Muslim yang ikut dalam Perang Badar tersebut. Inilah 313 nama-nama mereka :

1. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
2. Abu Bakar as-Shiddiq Radliyallahu 'Anhu.
3. Umar bin al-Khattab Radliyallahu 'Anhu.
4. Utsman bin Affan Radliyallahu 'Anhu.
5. Ali bin Abu Tholib Karramallahu Wajhah.
6. Talhah bin ‘Ubaidillah Radliyallahu 'Anhu.
7. Bilal bin Rabbah Radliyallahu 'Anhu.
8. Hamzah bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
9. Abdullah bin Jahsyi Radliyallahu 'Anhu.
10. Al-Zubair bin al-Awwam Radliyallahu 'Anhu.
11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim Radliyallahu 'Anhu.
12. Abdur Rahman bin ‘Auf Radliyallahu 'Anhu.
13. Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu 'Anhu.
14. Sa’ad bin Abi Waqqas Radliyallahu 'Anhu.
15. Abu Kabsyah al-Faris Radliyallahu 'Anhu.
16. Anasah al-Habsyi Radliyallahu 'Anhu.
17. Zaid bin Harithah al-Kalbi Radliyallahu 'Anhu.
18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi Radliyallahu 'Anhu.
19. Abu Marthad al-Ghanawi Radliyallahu 'Anhu.
20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) Radliyallahu 'Anhu.
26. Salim (maula Abu Huzaifah) Radliyallahu 'Anhu.
27. Sinan bin Muhsin Radliyallahu 'Anhu.
28. ‘Ukasyah bin Muhsin Radliyallahu 'Anhu.
29. Sinan bin Abi Sinan Radliyallahu 'Anhu.
30. Abu Sinan bin Muhsin Radliyallahu 'Anhu.
31. Syuja’ bin Wahab Radliyallahu 'Anhu.
32. ‘Utbah bin Wahab Radliyallahu 'Anhu.
33. Yazid bin Ruqais Radliyallahu 'Anhu.
34. Muhriz bin Nadhlah Radliyallahu 'Anhu.
35. Rabi’ah bin Aksam Radliyallahu 'Anhu.
36. Thaqfu bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
37. Malik bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
38. Mudlij bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i Radliyallahu 'Anhu.
40. ‘Utbah bin Ghazwan Radliyallahu 'Anhu.
41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) Radliyallahu 'Anhu.
42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi Radliyallahu 'Anhu.
43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) Radliyallahu 'Anhu.
44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah Radliyallahu 'Anhu.
45. Umair bin Abi Waqqas Radliyallahu 'Anhu.
46. Al-Miqdad bin ‘Amru Radliyallahu 'Anhu.
47. Mas’ud bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
48. Zus Syimalain Amru bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi Radliyallahu 'Anhu.
50. Amir bin Fuhairah Radliyallahu 'Anhu.
51. Suhaib bin Sinan Radliyallahu 'Anhu.
52. Abu Salamah bin Abdul Asad Radliyallahu 'Anhu.
53. Syammas bin Uthman Radliyallahu 'Anhu.
54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam Radliyallahu 'Anhu.
55. Ammar bin Yasir Radliyallahu 'Anhu.
56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i Radliyallahu 'Anhu.
57. Zaid bin al-Khattab Radliyallahu 'Anhu.
58. Amru bin Suraqah Radliyallahu 'Anhu.
59. Abdullah bin Suraqah Radliyallahu 'Anhu.
60. Sa’id bin Zaid bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) Radliyallahu 'Anhu.
62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi Radliyallahu 'Anhu.
63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli Radliyallahu 'Anhu.
64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli Radliyallahu 'Anhu.
65. Amir bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
66. Amir bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
67. Aqil bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
68. Khalid bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
69. Iyas bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
70. Uthman bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.
71. Qudamah bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.
72. Abdullah bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.
73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.
74. Ma’mar bin al-Harith Radliyallahu 'Anhu.
75. Khunais bin Huzafah Radliyallahu 'Anhu.
76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm Radliyallahu 'Anhu.
77. Abdullah bin Makhramah Radliyallahu 'Anhu.
78. Abdullah bin Suhail bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah Radliyallahu 'Anhu.
80. Hatib bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
81. Umair bin Auf Radliyallahu 'Anhu.
82. Sa’ad bin Khaulah Radliyallahu 'Anhu.
83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah Radliyallahu 'Anhu.
84. Amru bin al-Harith Radliyallahu 'Anhu.
85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
86. Safwan bin Wahab Radliyallahu 'Anhu.
87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
88. Sa’ad bin Muaz Radliyallahu 'Anhu.
89. Amru bin Muaz Radliyallahu 'Anhu.
90. Al-Harith bin Aus Radliyallahu 'Anhu.
91. Al-Harith bin Anas Radliyallahu 'Anhu.
92. Sa’ad bin Zaid bin Malik Radliyallahu 'Anhu.
93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi Radliyallahu 'Anhu.
94. ‘Ubbad bin Waqsyi Radliyallahu 'Anhu.
95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi Radliyallahu 'Anhu.
96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz Radliyallahu 'Anhu.
97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi Radliyallahu 'Anhu.
98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj Radliyallahu 'Anhu.
99. Salamah bin Aslam bin Harisy Radliyallahu 'Anhu.
100. Abul Haitham bin al-Tayyihan Radliyallahu 'Anhu.
101. ‘Ubaid bin Tayyihan Radliyallahu 'Anhu.
102. Abdullah bin Sahl Radliyallahu 'Anhu.
103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
104. Ubaid bin Aus Radliyallahu 'Anhu.
105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd Radliyallahu 'Anhu.
106. Mu’attib bin ‘Ubaid Radliyallahu 'Anhu.
107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
108. Mas’ud bin Sa’ad Radliyallahu 'Anhu.
109. Abu Absi Jabr bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah Radliyallahu 'Anhu.
112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail Radliyallahu 'Anhu.
113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar Radliyallahu 'Anhu.
115. Sahl bin Hunaif bin Wahib Radliyallahu 'Anhu.
116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir Radliyallahu 'Anhu.
117. Mubasyir bin Abdul Munzir Radliyallahu 'Anhu.
118. Rifa’ah bin Abdul Munzir Radliyallahu 'Anhu.
119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy Radliyallahu 'Anhu.
121. Rafi’ bin Anjadah Radliyallahu 'Anhu.
122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid Radliyallahu 'Anhu.
123. Tha’labah bin Hatib Radliyallahu 'Anhu.
124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
129. Asim bin Adi al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
130. Jubr bin ‘Atik Radliyallahu 'Anhu.
131. Malik bin Numailah al-Muzani Radliyallahu 'Anhu.
132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
133. Abdullah bin Jubair Radliyallahu 'Anhu.
134. Asim bin Qais bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.
135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
137. Salim bin Amir bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.
138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah Radliyallahu 'Anhu.
139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah Radliyallahu 'Anhu.
141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
142. Sa’ad bin Khaithamah Radliyallahu 'Anhu.
143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah Radliyallahu 'Anhu.
144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) Radliyallahu 'Anhu.
145. Al-Harith bin Arfajah Radliyallahu 'Anhu.
146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair Radliyallahu 'Anhu.
147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
148. Abdullah bin Rawahah Radliyallahu 'Anhu.
149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
152. Subai bin Qais bin ‘Isyah Radliyallahu 'Anhu.
153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah Radliyallahu 'Anhu.
154. Abdullah bin Abbas Radliyallahu 'Anhu.
155. Yazid bin al-Harith bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah Radliyallahu 'Anhu.
157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
159. Sufyan bin Bisyr bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
160. Tamim bin Ya’ar bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
161. Abdullah bin Umair Radliyallahu 'Anhu.
162. Zaid bin al-Marini bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
163. Abdullah bin ‘Urfutah Radliyallahu 'Anhu.
164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai Radliyallahu 'Anhu.
166. Aus bin Khauli bin Abdullah Radliyallahu 'Anhu.
167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah Radliyallahu 'Anhu.
169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
170. Amir bin Salamah Radliyallahu 'Anhu.
171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad Radliyallahu 'Anhu.
172. Amir bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah Radliyallahu 'Anhu.
174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan Radliyallahu 'Anhu.
175. ‘Ubadah bin al-Somit Radliyallahu 'Anhu.
176. Aus bin al-Somit Radliyallahu 'Anhu.
177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus Radliyallahu 'Anhu.
179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah Radliyallahu 'Anhu.
180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam Radliyallahu 'Anhu.
181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam Radliyallahu 'Anhu.
182. Amru bin Iyas Radliyallahu 'Anhu.
183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy Radliyallahu 'Anhu.
185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah Radliyallahu 'Anhu.
186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah Radliyallahu 'Anhu.
187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah Radliyallahu 'Anhu.
189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais Radliyallahu 'Anhu.
190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan Radliyallahu 'Anhu.
192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus Radliyallahu 'Anhu.
193. Ka’ab bin Humar al-Juhani Radliyallahu 'Anhu.
194. Dhamrah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
195. Ziyad bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
196. Basbas bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) Radliyallahu 'Anhu.
202. Abdullah bin Amru bin Haram Radliyallahu 'Anhu.
203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
207. Hubaib bin Aswad Radliyallahu 'Anhu.
208. Thabit bin al-Jiz’i Radliyallahu 'Anhu.
209. Umair bin al-Harith bin Labdah Radliyallahu 'Anhu.
210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur Radliyallahu 'Anhu.
211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ Radliyallahu 'Anhu.
212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ Radliyallahu 'Anhu.
213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr Radliyallahu 'Anhu.
215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr Radliyallahu 'Anhu.
216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i Radliyallahu 'Anhu.
217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i Radliyallahu 'Anhu.
218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr Radliyallahu 'Anhu.
219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr Radliyallahu 'Anhu.
220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah Radliyallahu 'Anhu.
221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
222. Sawad bin Razni bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram Radliyallahu 'Anhu.
224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram Radliyallahu 'Anhu.
225. Abdullah bin Abdi Manaf Radliyallahu 'Anhu.
226. Jabir bin Abdullah bin Riab Radliyallahu 'Anhu.
227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
228. An-Nu’man bin Yasar Radliyallahu 'Anhu.
229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
230. Qutbah bin Amir bin Hadidah Radliyallahu 'Anhu.
231. Sulaim bin Amru bin Hadidah Radliyallahu 'Anhu.
232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) Radliyallahu 'Anhu.
233. Abbas bin Amir bin Adi Radliyallahu 'Anhu.
234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad Radliyallahu 'Anhu.
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais Radliyallahu 'Anhu.
236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah Radliyallahu 'Anhu.
237. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus Radliyallahu 'Anhu.
238. Qais bin Mihshan bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
239. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
240. Jubair bin Iyas bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
241. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman Radliyallahu 'Anhu.
242. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih Radliyallahu 'Anhu.
245. Al-Fakih bin Bisyr Radliyallahu 'Anhu.
246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
247. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
257. Khalifah bin Adi bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan Radliyallahu 'Anhu.
259. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari Radliyallahu 'Anhu.
260. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
262. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza Radliyallahu 'Anhu.
263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru Radliyallahu 'Anhu.
264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani Radliyallahu 'Anhu.
265. Mas’ud bin Aus bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
267. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
268. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.
269. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.
270. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.
271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.
272. Abdullah bin Qais bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani Radliyallahu 'Anhu.
274. Ishmah al-Asyja’i Radliyallahu 'Anhu.
275. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi Radliyallahu 'Anhu.
276. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
277. Tha’labah bin Amru bin Mihshan Radliyallahu 'Anhu.
278. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
279. Ubai bin Ka’ab bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
281. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram Radliyallahu 'Anhu.
282. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.
283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl Radliyallahu 'Anhu.
284. Abu Syeikh Ubai bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.
285. Harithah bin Suraqah bin al-Harith Radliyallahu 'Anhu.
286. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi Radliyallahu 'Anhu.
287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik Radliyallahu 'Anhu.
288. Abu Salit bin Usairah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
289. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik Radliyallahu 'Anhu.
290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
291. Muhriz bin Amir bin Malik Radliyallahu 'Anhu.
292. Sawad bin Ghaziyyah Radliyallahu 'Anhu.
293. Abu Zaid Qais bin Sakan Radliyallahu 'Anhu.
294. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim Radliyallahu 'Anhu.
295. Sulaim bin Milhan Radliyallahu 'Anhu.
296. Haram bin Milhan Radliyallahu 'Anhu.
297. Qais bin Abi Sha’sha’ah Radliyallahu 'Anhu.
298. Abdullah bin Ka’ab bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
299. ‘Ishmah al-Asadi Radliyallahu 'Anhu.
300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik Radliyallahu 'Anhu.
301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah Radliyallahu 'Anhu.
302. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud Radliyallahu 'Anhu.
304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru Radliyallahu 'Anhu.
305. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud Radliyallahu 'Anhu.
307. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal Radliyallahu 'Anhu.
308. Ka’ab bin Zaid bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi Radliyallahu 'Anhu.
310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah Radliyallahu 'Anhu.
312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj Radliyallahu 'Anhu.
313. Oleh bin Syuqrat Radliyallahu 'Anhu.

Sumber : Kitab Aslul Qodr/asma badar karya Syaikh Abuya Dimyati Bin Syaikh Amin Al-Jawi Al-Bantani

Kisah Menakjubkan Awal Munculnya Istilah Pengemis

Add Comment

Telinga kita pasti akrab dengan istilah pengemis atau peminta-peminta. Ketika mendengar itu maka akan langsung terbayang sosok lusuh dipinggir jalan. Yang berdiri atau duduk bersimpuh sambil mengadahkan tangan kepada setiap orang yang lewat. 

Kalau melihat pengemis secara bahasa maka istilah pengemis ini sangat menarik. Kita akan dibuat bingung memikirkan darimana asal mula istilah pengemis. Apa kata dasarnya menurut Bahasa Indonesia? Apakah pengemis berasal dari kata dasar kemis, ngemis, emis atau apa ?

Dan dalam kamus Bahasa Indonesia ternyata maka kata dasar pengemis itu tak ada. Lantas apa pengertian dari pengemis? 

Untuk mengetahui apa arti mengemis bisa meninjaunyanya dari segi sejarah pembentukan istilahnya.

Istilah pengemis ternyata muncul sejak zaman kerajaan Kerajaan Surakarta Hadiningrat di pimpin oleh seorang Raja bernama Paku Buwono X. Saat itu Paku Buwono X dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan dan mengasihi rakyatnya.

Salah satu bukti kedermawanannya adalah ia selalu memberikan sedekah setiap hari Kamis sore menjelang Jumat. Biasanya pada hari Kamis tersebut Raja Paku Buwono keluar dari Istananya untuk melihat-lihat keadaan rakyatnya, dari istana menuju Masjid Agung.

Perjalanan dari gerbang Istana menuju Masjid Agung tersebut ditempuh dengan berjalan kaki yang tentunya melewati alun-alun lor (alun-alun utara). Sambil berjalan kaki Raja Pakubuwono biasanya diiringi para pengawal sang raja.

Kecintaan rakyat membuat sepanjang jalan dipenuhi oleh rakyat sembari menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan kepada sang pemimpinnya.

Pada saat itulah setiap hari Kamis sang Raja membagikan sedekah. Sedekah yang langsung diberikan kepada rakyatnya berupa uang tanpa ada satupun yang terlewatkan. Entah sejak kapan kebiasaan Raja dimulai mungkin juga warisan para penguasa sebelumnya (sebelum Paku Buwono X).

Nah kebiasaan bersedekah Raja pada setiap hari Kamis ( Kemis dalam Bahasa Jawa) ternyata melahirkan sebuah istilah pengemis. Yaitu orang-orang yang sengaja datang dan berkumpul pada hari Kamis menyambut Raja untuk menerima berkah dari Sang Raja.

Dari kisah itu bisa dlihat betapa mulianya hati Sang Raja. Padahal biasanya rakyat cukup senang bisa melihat dan bertemu langsung Rajanya. Tapi Raja Pakubuwono X ini malah sengaja datang menemui rakyatnya hanya untuk bersedekah dan memberi bantuan.

Dibalik itu muncul pertanyaan, mengapa Sang Raja mengkhususkan bersedekah pada hari Kamis. pendapat berikut mungkin jawabannya,

Imam Az-Zarqani dalam Syarh al-Muwatha mengatakan: "Hari senin dan kamis memiliki keutamaan yang tidak ada pada hari-hari lain, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada kedua hari tersebut dan menganjurkan untuk berpuasa, bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menjaga puasa pada kedua hari tersebut”. 

Disebutkan dalam At-Tanwir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir karya Muhammad bin Ismai’il Ash-Shan’ani (w.1182 H), “Dianjurkan berpuasa pada kedua hari ini. Selain itu dianjurkan pula memperbanyak amal shaleh. Karena alasan pengangkatan amal-amal shaleh menyiratkan (anjuran) memperbanyak amal shaleh pada kedua hari ini”. 

Imam al-Ghazali berkata dalam Ihya Ulumiddin, “Adapun (waktu yang utama) dalam sepekan adalah hari Senin, Kamis, dan Jum’at. Inilah hari-hari yang utama, sehingga dianjurkan berpuasa (Senin dan kamis) dan memperbanyak kebaikan karena pahalanya dilipatgandakan oleh keberkahan waktu-waktu tersebut”. 

Maka seyogyanya pada hari ini (Senin dan Kamis) selain berpuasa seseorang memperbanyak amal shaleh yang lain seperti dzikir, sedekah, dan ibadah-ibadah sunnah, karena hari ini merupakan hari yang utama dan hari dimana amal shaleh diangkat kepada Allah. 

Wallahu a’lam.










Inilah Urutan Pangkat Polisi Yang Perlu Diketahui

Add Comment


Umumnya masyarakat awam melihat polisi hanya pada pakaiannya saja. Jarang sekali yang bisa membedakan pangkat polisi yang satu dengan yang lainnya. Maka tidak ada salahnya bila kita harus tahu juga bagaimana susunan pangkat dalam kepolisian. Juga harus tahu juga bagaimana cara supaya kita bisa mengetahui pangkat sesorang dalam kepolisian.

Pangkat dalam kepolisian biasanya dibedakan dengan cara melihat lambang kepangkatan yang ada pada pundak atau lengannya. 

Bisa saja anda bertemu orang dijalanan yang mengaku polisi dengan pangkat perwira namun ia mengenakan lambang pangkat bintara. Dari situ bisa diketahui mungkin saja ia adalah penipu yang mengaku polisi. Karena kalau polisi asli tentu tidak akan salah memakai lambang kepangkatan.

Sebelum mengetahui tentang urutan pangkat polisi maka harus diketahui bahwa kepangkatan Polri dibagi ke dalam 2 golongan besar yaitu Perwira dan Bintara.

Untuk membedakannya cukup melihat dari lambang kepangkatannya. Untuk golongan Perwira biasanya akan mengenakan lambang kepangkatan yang berwarna emas atau kuning. Sedangkan yang bintara akan mengenakan lambang pangkat berwarna Perak atau putih.


Setelah membedakan dari warnanya maka selanjutnya bisa melihat perbedaan pangkat dari bentuk lambang pangkatnya. Namun sebelum itu harus diketahui juga bahwa Pangkat Perwira ini dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu Perwira Tinggi, Perwira menengah dan Perwira Bawah. Sedangkat Pangkat Bintara dibagi menjadi Bintara dan Bintara Tinggi.

Lebih jelasnya seperti di bawah ini :

I PERWIRA TINGGI

  1. Jenderal Polisi
  2. Komisaris Jendral Polisi
  3. Inspektur Jenderal Polisi
  4. Brigadir Jenderal Polisi

Pangkat Perwira Tinggi

II. PERWIRA MENENGAH

  1. Komisaris Besar Polisi
  2. Ajun Komisaris Besar Polisi
  3. Komisaris Polisi

Pangkat Perwira Menengah


III. PERWIRA PERTAMA

  1. Ajun Komisaris Polisi
  2. Inspektur Polisi Satu
  3. Inspektur Polisi Dua

Pangkat Perwira Pertama


Sedangkan dalam Bintara dibagi menjadi 

I. BINTARA TINGGI
  1. Ajun Inspektur Polisi Satu
  2. Ajun Inspektur Polisi Dua
Pangkat Bintara Tinggi

II. BINTARA
  1. Brigadir Polisi Kepala
  2. Brigadir Polisi Brippol
  3. Brigadir Polisi Satu
  4. Brigadir Polisi Dua
Pangkat Bintara

Nah itulah urutan pangkat dalam kepolisian Indonesia. Bagaimana sudah mengertikan. Kalau sudah mengerti coba tebak apa pangkat Polisi di bawah ini.